Lele Sering Mati Mendadak? Cek 5 Kesalahan Fatal dalam Kelola Air
Ikan lele sering dianggap sebagai ikan yang paling kuat dan tahan banting. Mereka punya kemampuan unik untuk mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga banyak orang berpikir lele bisa hidup di air sekotor apa pun.
Baca Juga:
- Fungsi Vital Waring Ikan dalam Budidaya Perairan Arus Tenang
- Mengapa Melon Anda Tidak Manis? Inilah Faktor Penentu Kualitas Buah Melon
- Cara Memilih Waring Sayur yang Kuat dan Tidak Mudah Jebol saat Pengiriman
Namun, pemikiran inilah yang sering menjadi bumerang bagi peternak. Kenyataannya, lele tetap butuh lingkungan yang sehat untuk tumbuh maksimal.
Jika kamu sering mendapati ikan lele mati secara massal tanpa ada tanda-tanda sakit sebelumnya, atau lele banyak yang menggantung di permukaan air, itu adalah sinyal bahaya. Berikut adalah 5 kesalahan fatal dalam mengelola air yang sering menyebabkan kematian mendadak pada lele:
1. Membiarkan Penumpukan Kotoran di Dasar Kolam
Inilah pembunuh nomor satu dalam budidaya lele. Sisa pakan yang tidak termakan dan kotoran ikan akan mengendap di dasar kolam. Lama-kelamaan, tumpukan ini akan membusuk dan menghasilkan gas beracun yang disebut amonia. Amonia ini tidak terlihat, tapi sangat mematikan. Saat malam hari atau cuaca dingin, racun ini akan naik ke permukaan dan membuat ikan keracunan secara mendadak.
Solusinya: Kamu harus rutin membuang air bagian bawah kolam (sistem siphon) setidaknya 2 atau 3 hari sekali. Buang lumpur hitam yang berbau busuk sampai air yang keluar terlihat sedikit lebih bersih.
2. Mengganti Air Secara Total dalam Satu Waktu
Banyak peternak pemula panik saat melihat air kolam berwarna hijau pekat atau kecokelatan, lalu langsung menguras habis airnya dan diganti dengan air baru yang jernih. Langkah ini sangat berbahaya. Ikan lele sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan keasaman air yang drastis. Pergantian air secara total akan membuat ikan kaget (shock) dan menyebabkan sistem imun mereka drop seketika.
Solusinya: Jangan pernah menguras air sampai habis kecuali dalam keadaan darurat medis. Cukup buang sekitar 30 persen air lama, lalu tambahkan air baru secara perlahan.
3. Tidak Menetralkan Kolam Setelah Hujan
Air hujan memiliki sifat asam yang bisa mengacaukan keseimbangan air kolam. Selain itu, hujan deras biasanya membawa perubahan suhu yang mendadak. Jika kolam kamu terbuka, air hujan yang masuk dalam jumlah banyak akan merusak lapisan lendir pada kulit lele. Lendir ini adalah pelindung alami lele dari kuman. Jika pelindungnya rusak, lele akan stres dan mati dalam waktu singkat.
Solusinya: Segera buang lapisan air bagian atas setelah hujan berhenti. Setelah itu, taburkan garam krosok atau garam ikan untuk menstabilkan kondisi air kembali.
4. Menebar Benih Terlalu Padat
Keinginan untuk untung besar sering membuat peternak memasukkan terlalu banyak bibit ke dalam satu kolam yang sempit. Semakin banyak ikan, semakin banyak pula kotoran yang dihasilkan. Jika oksigen di dalam air tidak mencukupi untuk mengurai kotoran tersebut, air akan cepat sekali beracun. Selain itu, ikan yang terlalu berdesakan akan lebih mudah stres dan saling melukai.
Solusinya: Gunakan aturan tebar yang wajar. Untuk pemula, idealnya sekitar 100 sampai 150 ekor per meter persegi. Jangan memaksakan kapasitas kolam jika sistem sirkulasi air kamu belum canggih.
5. Pemberian Pakan yang Berlebihan
Memberi makan terlalu banyak tidak selalu membuat lele cepat besar. Pelet yang tidak termakan akan tenggelam dan menjadi sumber racun di dasar kolam. Selain itu, lele yang makan terlalu kenyang di saat kualitas air sedang buruk akan mengalami gangguan pencernaan, perut kembung, dan berujung pada kematian.
Solusinya: Berikan pakan secukupnya saja. Gunakan aturan 80 persen, artinya berikan pakan sampai ikan terlihat mulai tenang (tidak terlalu agresif lagi), lalu segera hentikan.

.png)
0 Response to "Lele Sering Mati Mendadak? Cek 5 Kesalahan Fatal dalam Kelola Air"
Posting Komentar